pohon kehidupan

Thursday, July 21, 2005
Hubungan Kemacetan Lalin, Tayangan Televisi dan Masa depan generasi muda Indonesia.



Sudah satu tahun aku ninggalin Jokja ke Jakarta, untuk bekerja. Sebenernya apa sih yang dicari orang dalam bekerja. Apakah hanya untuk mendapatkan pengakuan "Wah hebat ya sudah bekerja, Hari gini susah lho cari kerjaan", ato untuk mendapatkan penghasilan yang "cukup" (tingkat ke"cukupan"an tiap manusia tuh sangat sangat relatif, ada yang ga pernah merasa "cukup"), ataukah supaya menjadi lebih skillfull supaya bisa pindah - pindah kerja untuk cari pengalaman, masih banyak kemungkinan lain, tiap orang bisa nulis untuk apa dia bekerja...

Selama 1/3 atau lebih waktu digunakan untuk bekerja, itu masih normal jadi masih punya waktu 1/3 untuk keluarga. Tapi bagaimana dengan kebanyakan mereka yang waktu bekerjanya luar biasa penuh, bagaimana dengan keluarganya? bagaimana hubungan emosional dengan keluarga terutama bagi anak - anak (bagi mereka yang sudah menikah dan punya anak tentunya).

Menurut pengalaman yang saya temui, sejauh ini banyak sekali teman - teman saya yang sering pulang kemalaman dan berangkat kantor pagi, hanya karena kemacetan yang luar biasa di setiap sudut jalan Jakarta. Mereka dengan terpaksa mempercayakan anak - anak pada pengasuh. Pernah terpikir ga, bagaimana jika seorang pengasuh itu hanya baik di depan ortu, tapi tidak mendidik anak - anak dengan benar.

Bagaimana jika si pengasuh tiap pagi hari sampe sore tontonannya sinetron "fast view" (analogi dari fast food) made in Production House yang pasti kejar tayang sehingga mutunya seperti itu (bisa dilihat sendiri deh gimana sih kondisi sinetron Indonesia saat ini) ditambah lagi berita - berita kejahatan tanpa filter yang disiarkan pada pagi dan siang hari. Nah tentunya mbak pengasuh ini nontonnya sama anak - anak kan? Akan baik jika mbak pengasuh bisa ngasih pengarahan yang tepat, gimana kalo sebaliknya sehingga dia juga terbawa arus media televisi yang liar.

Seorang Psikolog pernah berkata bahwa hubungan orang tua ke anak tuh bukan kuantitas pertemuan yang penting tapi kualitasnya. How Come? Bagaimana jika si Ortu dah capek duluan sampe dirumah, kualitas seperti apakah yang terbangun dari kondisi seperti itu?

Sebenarnya saya cuma menuangkan pikiran saya di tulisan ini, adakah hubungan yang terkait antara Kemacetan, Tayangan Televisi dan Generasi Penerus Kita (anak - anak), sehingga takutnya di masa mendatang kualitas generasi penerus bangsa ini menjadi tidak humanis.


Andre on 10:48 AM